Rindu Bubur Ayam Jakarta



Bagi gw, Jakarta bukan hanya macet dan banjir saja, karena ada sesuatu yang berbeda dan hanya ada di sana. Kebiasaan gw sewaktu di Jakarta adalah sarapan bubur tapi bukan bubur sembarang bubur, Hanya bubur tertentu yang punya cita rasa gurih, bahkan bisa dibilang sangat gurih dan banyak beredar di pinggir jalan Jakarta. Loe gak akan bisa tau dimana mereka meletakan mecin-nya.

Sangking gurihnya, loe bahkan bisa meneteskan liur saat bilang "satu bang, makan disini", apalagi saat loe liat abangnya nyedok bubur dari dandang, buburnya diangkat, menetes sedikit di dandang dan di hempaskan kuat ke mangkok sampai bunyi "plok", bisa bikin kita terangsang dan menggugah selera.

Kadang gw sampe "miss feeling" atau ragu sama sensor gw sendiri, apakah gw tertarik sama aroma bubur atau tertarik sama gaya abang bubur yang eksotis dalam menyendok bubur ke mangkok, penuh keyakinan, presisi tinggi, mempunyai nilai dan intuisi, apalagi setelah selesai menyendok bubur, dengan elegannya melihat gw dan bertanya "pake kacang?". Gak tahan gw liatnya, perasaan macam apa ini..........

Sambelnya juga bikin kita lupa ingatan, beberapa bubur ada yang memiliki sambel super pedas, sambel gledek, petir, guntur dan lain lain, sesaat dicoba memang kita bakal sumpah serapah karena sangking pedasnya, tapi detik itu juga kita akan mencari botol sambalnya tapi bukan untuk di maki, hina ataupun kita campakan, tapi untuk kita tuang lagi kedalam bubur. Sihir macam apa ini.........

Kalau liat beberapa tukang bubur pinggi jalan, mereka memang beneran mangkal tepat di pinggir jalan, tempat favorite gw sarapan adalah bubur di daerah Setiabudi dekat menara MNC, letaknya di trotoar persis dekat got besar. Makan di sana harus serius dan gak boleh sambil bercanda, kalau kelewatan bercandanya bisa ketawa dan korsinya jomplang kebelakang got. Lelucon apa itu....

Dari lokasi seperti itu, gw liat sate ati ampela ataupun sate telor puyuh hanya dengan sebelah mata, mereka aja jualan di pinggir jalan seperti itu, bagaimana dengan kebersihan sate yang mereka sediakan, debu, kuman dan bakteri, siapa yang bisa menjamin kebersihan sate-sate tadi. Itulah yang selalu gw pertanyakan dalam hati sambil ngunyah sate ampela yang gurih. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk menindas gw... 

Share this:

CONVERSATION

2 comments:

ahmad fauzi mengatakan...

tapi foto bubur yang ada d postingan, malah enggak pernah gue lihat sih. bentuk bubur apaan itu.
emang dah, kuliner indonesia itu kayak punya aura magis sendiri sih. mau dijual dipinggir got sekalipun, tetep aja ada yang beli. bingung juga sih. apalagi kalau emang terkenal enak, semasa bodo dah sama got, yang penting enak itu makanannya. tapi kacau juga sih kalau smpe kecebur got gara'' kebanyakan becanda.
hahahah

puput setiyawan mengatakan...

hehehe fotonya cuma ilustrasi aja om, silahkan mampir2 kuliner pagi jakarta.. akan terpesona deh