Pengendalian Air, Api, Tanah dan Udara?


Menguatkan dan mempersiapkan segalanya setelah melihat anak gw lahir. Tidak pernah gw merasa lengkap, siap dan yakin seperti itu, seperti saat menggendong tubuh mungil yang hanya bisa menggeliat lemah dan menangis dengan mata kecil tertutup. Diiringi suara tangisan dalam dekapan hangat tangan, gw berjanji akan selalu menjaganya.

Apapun yang dihadapi, gw selalu berhasil membawa keadaan itu dalam senyuman penuh kelelahan. Masih ter-ingat saat umurnya bisa dihitung dalam satuan minggu, masih mengunakan popok kain. Mencebokinya dengan kapas basah lembut, memasangkan kembali popok kain dan kembali buang air besar setelah diletakan di tempat tidur mungilnya, sampai 3 kali.

Tidak merasa kaget saat Macbook gw di injek. Merasa biasa saat handphone direbut lalu dilempar. Menciumi pipinya dengan gemas saat dompet diobrak-abrik. Senyum sendiri saat menemukan pakaian dalam saat membuka tas di kantor, saat dia masih hobby memindahkan barang. Bahkan tertawa lepas, sesaat selesai mandi dia masih buang air besar di sebelah bak mandi, dan dengan senyum bangganya dia menunjuk sepotong kotoran yang mirip pisang goreng kecil dalam balutan coklat terbaik. 

Bangga setengah mati bisa menidurkannya di ayunan tangan sendiri dengan nyanyian "bintang kecil" bersuara seperti gesekan kaleng dengan aspal, kasar tanpa nada, di ulang berkali-kali sampai dia tertidur. Mungkin dia memilih tertidur daripada mendengarkan gw bernyanyi.

Tapi kemarin, sewaktu gw membaca buku sambil bersender, dia melompat lompat di kasur sambil membawa salah satu boneka kesukaannya yang diayun ke udara persis dibelakang gw. Sambil melompat dan mengayun, bonekanya mendarat keras tepat di mata kanan gw. 

Langsung berdiri, dengan air muka tidak senang, gw mengucapkan kalimat dengan sedikit teriak. Seketika raut mukanya berubah menjadi gelap, menutupi senyum kecerian khas anak kecil. Seperti hangat cerah matahari siang yang dilahap awan hitam besar mendung hujan.

Dia berlari mencari neneknya, meraung-raung di pelukan nenek, sambil sesekali mengatakan "Papa nakal". Tidak ada yang bisa membujuk dia, awan mendung sudah menjadi hujan lebat yang besar, disertai kilat petir dan bunyi geledek memekakan telinga. Raungannya terdengar keseluruh penjuru rumah.

Sedangkan gw gak bisa berbuat apapun. Rayu bujuk sudah tidak mempan. Semua impian gw selama ini, menjadi pengendali air, api, tanah dan udara lenyap, gw sudah gak berharap menjadi Avatar penguasa semua elemen, gw hanya pengen satu pengendalian di dunia ini, pengendalian emosi.

Share this:

CONVERSATION

20 comments:

  1. Anak kecil kadang bisa bikin senyim-senyum ketawa sendiri tapi kadang ngeselin sampe harus nahan emosi. Bang puput, itu yang diceritain di post ini anak yang keberapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe yg ini anak pertama mas..

      Hapus
  2. Ini anak abang dari istri yg keberapa ya? Eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah ini.. out of the box :D :Djempol: buat loe nik

      Hapus
  3. kirain lagi ngebahas avatar nih bang, hehe
    kalau soal anak, sebagai papah mudah dengan anak yang pertama, memang agak sedikit susah ngendaliin emosi.
    mungkin belum ada sifat ke ayah2annya kali ya. :D

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. jng kekencengan, blom pake helm kaan

      Hapus
  5. Emosi memang sulit dikendalikan kalo sudah menjadi watak, tapi kurang emosi jga menyebabkan manusianya lemah. .jadi harus imbang antara keduanya

    BalasHapus
  6. buat bahan pembelajaran untuk calon bapak seperti sayah ; :D

    BalasHapus
  7. wah pisang coklat kremesnya boleh tuh mas haha :)) asli ngakak bacanya

    BalasHapus
  8. Angkat aku jadi muridmu guru....hehehe

    BalasHapus
  9. seru nih, jadi pengen punya anak..hahaha

    BalasHapus
  10. papa nakal mama di tindih sampai merintih hahaha
    Jadi inget ponakan gw yang masukin sandal jepit ke dalam tas kerja bokap nya

    BalasHapus
  11. mungkin papa lagi cape kali. jadi kelepasan emosinya. hehe

    BalasHapus