Pelantikan Penuh Suka dan Cita, Kecuali..


Rasa berdebar setelah perhitungan suara makin menjadi-jadi. Akhirnya semua bersuka cita mendapat pemimpin baru dari hasil pilihan rakyat. Tapi ada satu orang yang bersedih, dia adalah pemimpin baru terpilih, dia adalah gw si ketua kelas di SD.

Gw kecil sadar banget, menjadi pemimpin adalah tugas yang berat dan harus dijalani dengan hati tulus penuh tanggung jawab. Bukan cuma gw yang paham akan tugas itu, temen sekelas gw yang lain juga paham akan arti dari kepemimpinan, makanya mereka pada ogah jadi ketua kelas. Alias pada males.

Kebetulan waktu itu fisik gw cocok untuk dijadikan pemimpin, berbadan kecil dan culun. Jadi mereka yang badannya gede nyuruh dengan setengah memaksa,

"Elo aja put.."

"Puput aja paak!!"

Sambil berteriak "jangaaan pak" gw berusaha untuk menganulir nama gw untuk dijadikan calon ketua kelas, tapi apa daya, suara gw yang serak cempreng teranulir dari ganasnya suara rakyat yang sangat butuh pemimpin baru.

Akhirnya gw dicalonkan sebagai ketua kelas bersama dengan beberapa calon yang lain. Pemilihan suara sangat sederhana, kita masing-masing murid cuma menulis nama di potongan kertas kecil yang digulung dan dimasukan kedalam sebuah tempat. Untuk selanjutnya dibacakan nama, dan dihitung bersama.

Tidak menggunakan Quick Count, Survey, Poling atau intrik politik kotor. Semua berjalan  dengan lancar, semua murid tampak bahagia kecuali mereka yang dicalonkan sebagai ketua kelas. Khususnya gw yang berkeringat segede jagung, sumpah.. gw ogah banget jadi ketua kelas.

Di antara teriakan gembira dan tepuk tangan, pikiran gw melayang memikirkan masa kerja 1 tahun kedepan. Sebagai ketua kelas baru, program apa yang harus gw buat agar kelas ini menjadi kelas unggulan di kelurahan dan kelas percontohan bertaraf kecamatan.

Bagaimana meningkatkan kualitas jajanan di kantin dengan tetap menyeimbangkan daya beli pelajar, membantu fakir nilai bagi mereka yang tak mampu menghindari film kartun di sore hari dan bagaimana membuat program konseling bagi mereka yang selalu lupa membawa penggaris saat pelajaran menggambar.

Walaupun berat hati, amanat dari rakyat harus dan terpaksa gw terima. Gurupun memberikan tugas pertama dengan menyuruh menghapus papan tulis, bahkan di beberapa kesempatan pada akhir mata pelajaran dan kondisi papan tulis sudah penuh, gurupun bertanya "mana ketua kelasnya?!!".

#MemetikBungaMelati
#TempelDiKumis
#BerkerjaDenganHati
#MenghapusPapanTulis


Share this:

CONVERSATION

2 comments:

Renggo Starr mengatakan...

Gue 6 tahun berturut-turut jadi ketua kelas SD. Menyedihkan sekali masa-masa itu :(

Puput mengatakan...

huanjir.... double hatrick juara banget tahan ampe 6 tahun