
Bayanganmu masih melekat erat dalam alam bawah sadarku, mungkinkah engkau hidup disana ?
Gw inget banget kapan dan bagaimana awal kita ketemu, siang itu seperti siang yang biasanya, tidak ada yang istimewa dari siang itu. Kecuali hawa kantuk yang nyerang gw dengan membabi buta, bukannya ingin meyerah oleh serangan sang kantuk, tapi memang kantuk tidak layak di lawan apabila kita berada di tempat tidur yang empuk dan nyaman.
Memejamkan mata dan tidur dengan seksama, tapi gw langsung terbangun dari tidur gw yang seharusnya menjadi tidur siang yang paling nyaman. Tapi ada yang aneh dari bangunnya gw kali ini, gw tidak merasa bangun secara seutuhnya, perasaan gw mengatakan kalo gw belum bangun dari tidur siang gw.
Iya betul sekali, gw tau banget kalo ini adalah alam mimpi gw, gw sangat sadar dengan sesadar sadarnya kalo gw sedang bermimpi dan sedang berada di alam mimpi gw sendiri. Gw perhatikan sekeliling kamar gw, tidak ada yang berbeda dari tata letak tempat tidur, bantal dan guling, bahkan lemari panjang tempat gw naroh baju pun terletak sama persis di pojok kiri dari kamar gw, bersebelahan dengan pintu masuk kamar gw. Jendela gw pun terletak sama persis, terletak berhadapan dengan pintu masuk kamar gw.
Hanya saja di alam mimpi itu semua terasa lebih lembut, warna disekitarpun tidak sekontras dengan warna kamar gw yang biasanya. Tampak lebih lembut dan lebih kecoklatan dari bisanya, kamar gw jadi tampak seperti foto usang yang sudah lama tersimpan, dan gw paling suka sama badan gw, di sana badan gw terasa sangat ringan, gw coba untuk melangkah dan melompat, sepertinya gravitasi tidak terlalu menuntut banyak, gw merasa melayang kalau melangkah, sungguh menyenangkan.
Senang rasanya menjelajahi dunia mimpi dengan kesadaran penuh bahwa kita ada di dunia mimpi, tapi entah kenapa gw selalu tertarik dengan jendela di kamar gw, seakan memanggil gw untuk datang kesana. Gw perhatikan dengan seksama ada apa dengan jendela kamar gw itu, seperti jendela biasanya kotak dan lengkap dengan daun jendela yang terbuka menghadap keluar.
Merasa terpanggil gw coba mendekati jendela itu, untuk sekedar menengok dan mengecek apa yg membuat gw selalu terpanggil kesana. Belum sampai gw mendekat dengan jendela kamar, masih sekitar 1 meter dari posisi gw saat itu, jantung gw langsung tersentak kaget karena gw melihat ada tangan kecil putih yang memegang bagian bawah jendela gw, memegang erat seakan ingin melompat naik ke jendela.
Walau dengan hawa dingin di punggung dan bahu yang mendadak hadir, tapi tak ada yang bisa gw lakukan selain mendekat dan melihat tangan siapakah gerangan, dengan berat kaki ini melangkah membawa jantung yang berdegup kencang mengiringi rasa takut karena ketidaktahuan. Gw udah merasa dekat dengan jendela saat gw melihat ada sosok anak kecil cewek yang muncul dengan perlahan dari balik jendela kamar gw, kaget nya gw saat melihat sosok anak kecil itu nafas langsung terhenti dan sulit untuk menarik oksigen untuk menyuplai paru paru, sesak sangat sesak sekali.
Anak kecil itu berumur sekitar 6 tahunan dengan wajah putih pucat dan terseyum kaku kering kearah gw dengan bibir hitamnya yang mungil, wajahnya sungguh mengagetkan karena sungguh pucat seperti tidak ada setetes darah pun yang mengalir di wajahnya, putih pucat dan kusam. Wajahnya tampak kotor karena terlihat bekas tanah coklat mencoret pipi dan dahinya, matanya yang mungil tampak hitam dan tajam melihat gw tanpa kedipan seperti anak panah yang sudah siap terlepas, yang secara otomatis membuat mata gw juga terpaku tak mau lepas dari pandangannya. Dengan rambutnya yang hitam lebat tapi tidak tertata rapih dia muncul tanpa suara.
Membuat kaget sehingga kaki lemes dan hampir membuat gw terjatuh, gw langsung dengan sigap memegang jendela bagian bawah kamar gw, sehingga membuat tangan gw tidak jauh dengan tangan anak kecil itu dan membuat kita sama sama memegang jendela bagian bawah. Kaki gw terasa lemas tapi pikiran gw selalu memerintahkan kaki gw untuk lari keluar kamar, entah kenapa saat itu kaki gw menolak untuk menerima perintah langsung yang datang dari otak. Baiklah mungkin ini saatnya gw berhadapan dengan rasa takut yang sungguh sangat, ingin sekali rasanya gw membuka percakapan untuk memecahkan keheningan di antara kita, karena kita hanya saling memandang dingin satu sama lain.
Dalam nafas yang sulit di atur dan tersenggal senggal gw coba mengatakan kata kata sapaan, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut, hanya bibir yang terbuka kecil tanpa suara. Anak kecil itu masih memandang tajam tanpa kata sampai akhirnya dia mengatakan suatu kalimat yang belum bisa gw lupakan sampai sekarang, dengan suaranya kecilnya dia berkata “kamu takut ya sama saya”.
Astaga... hawa dingin langsung menjalar lagi ke bahu dan leher bagian belakang gw, mencengkram dan seakan ingin menarik keluar punggung gw. Sejujur nya gw merasakan ketakutan itu, tapi gw gak boleh bilang takut ke dia, sulit rasanya memilih kata untuk menjawab pertanyaan dia. Dengan kaki dan bibir yang bergetar gw coba menjawab sekuat hati dan keluar kalimat “gw cuma takut sama tuhan”.
Gw juga bingung kenapa kalimat macam itu yang keluar, kenapa gw gak tegas aja bilang kalo gw gak takut sama dia, apa boleh buat ternyata hanya sampai situ keberanian gw untuk berkata. Dengan degupan di dada gw penasaran apa reaksinya setelah dia mendengar kalimat kacau yang keluar dari mulut gw.
Dia tampak tetap tersenyum kaku dan kering kearah gw, seakan dia tahu apa isi hati gw yang sebenernya. Tiba tiba aja semuanya menjadi begitu buram dan tidak jelas, gambaran anak kecil itu menjadi perlahan hilang dan membuat gw terbangun dan sadar, gw langsung melek dengan pandangan keatas langit langit kamar.
Nafas gw masih tersengal sengal tapi gw coba untuk menengok ke arah jendela kamar gw, jendela itu masih dalam keadaan terbuka dan suasana di luar jendela masih tampak terang karena hari masih siang. Dengan nekat gw coba melihat jendela lebih dekat dan menengok keluar jendela, keadaan di luar jendela masih seperti biasanya, banyak tumpukan batu bata dan genting yang belum di pakai dan banyak kotoran tanah di mana mana.
Hati gw membenarkan kalau tadi hanya mimpi buruk, tapi mimpi itu seakan nyata karena efeknya masih sangat terasa, kaki gw masih lemes dan nafas gw masih tersengal sengal. Bayangan anak kecil itu pun masih jelas tergambar di kepala gw, sampai saat ini. Gw sadar ada temen gw yang parasnya mirip dengan paras anak kecil di mimpi gw itu dan dia ada di FB gw.
Lanjut dong put...