Keberanian di Kesendirian



Dalam keramaian akan selalu muncul keberanian, tapi dalam kesendirian mungkin akan memunculkan kenekatan.

Pulang jam malam biasa gw alami sewaktu kuliah dan kursus bahasa inggris dulu, naik angkot kloter akhir bersama dengan orang yang terpaksa pulang malam juga, bahkan gw sering berjumpa dengan kelompok orang yang sama, dia lagi dan dia lagi. Ada kelompok orang yang menarik menurut gw, dilihat dari penampilannya mereka seperti orang yang sedang pulang kerja, tapi bukan kerja kantoran biasa karena pakaiannya kasual, sepatu kets dan menggunakan jaket kain untuk menjaga udara malam yang dingin, kita sebut aja mereka geng seru.

Karena kalau mereka muncul bisa merubah suasana angkot menjadi seru. Geng seru sering banget ceng-cengan sesama mereka dan kadang merembet ke salah satu cewek yang ada di angkot, menggoda sesama geng dan mengkaitkan dengan cewek di angkot. Anehnya, setiap cewek yang kena goda tidak ada yang merasa terganggu, kadang dia tersenyum malu bahkan  menikmati saat-saat menjadi bintang di angkot. Mungkin kalau dibayangkan, momen tersebut mirip dengan acara dangdut pantura, dimana cewek tadi adalah penyanyi yang sedang menikmati momen menjadi bintang tapi sambil diledekin oleh para juri.

Tapi kita gak tau juga perasaan asli yang dirasakan cewek tadi, apakah dia bener menikmati atau sebenernya terganggu tapi tidak berani menyatakan isi hatinya. Gw juga gak berani nanya ke cewek tadi, karena memang sangat canggung posisi gw sebagai salah satu penumpang yang mau sok peduli sama perasaan penumpang lain. Belum tentu ceweknya mau dibantu, dan bagaimana juga reaksi geng seru kalau tiba-tiba ada yang nimbrung membela cewek tadi padahal gw sering menertawakan kelakar mereka. Gw cuma bisa diem di angkot mengikuti alur perjalanan dengan biasa, kadang gw liat pintu keluar angkot untuk melihat kilasan pemandangan luar angkot yang berganti dengan cepat, sesekali gw palingkan muka kebelakang angkot melihat pemandangan yang ditinggalkan oleh perjalanan angkot malam itu, dan sepersekian detik kalau ada kesempatan gw mencuri sedikit pandangan cewek tadi untuk memastikan apakah dia masih menikmati momennya atau sudah terluka. Tapi pikiran itu hilang setelah gw bayar ongkos ke supir dan turun dari angkot.

Gw sendiri kehabisan pikiran, kok bisa banget geng seru tadi bersikap santai dan ramai di angkot yang asing, bahkan bisa dengan sendirinya ngajak cewek untuk bergabung ke dalam keseruannya. Apakah mereka adalah individu yang terbiasa dengan keramaian atau karena kebersamaan mereka menimbulkan keberanian seperti itu. Pikiran tadi menyebabkan gw merasa berani dan ingin berani untuk berbuat hal yang sama, dari situ gw memutuskan untuk mencoba mengajak ngobrol cewek di angkot secara random dan spontan.

Cukup sulit menemukan momen yang tepat untuk mengajak cewek ngobrol diangkot, karena kadang angkot penuh dan posisi gw terlalu jauh dengan target, kadang isinya cowok semua, kadang ceweknya terlihat sudah punya cucu dan banyak anak, kadang juga ada cewek yang terlalu mengintimidasi gw dari cara dia menampilkan bahasa tubuhnya, terlihat seperti seorang pimpinan grup cewek populer sedangkan gw seperti anak culun yang masih ngelap ingus pake telapak tangan. 

Pada satu malam setelah gw melupakan semua hal tentang ngajak cewek ngobrol atau berkenalan di angkot, gw mendapatkan duduk sendiri di angkot malam itu. Mungkin ini bukan kloter akhir tapi adalah kloter ter-akhir untuk malam ini, begitu pikir gw. Tiba-tiba muncul seorang cewek yang biasa, tidak masuk dalam kategori wow seperti Dewi Persik ataupun Cita Citata, tapi dibantu dengan temaram lampu angkot berwarna jingga dan tambahan pancar sinar bulan yang mendarat tepat di pipi kirinya, sudah cukup untuk mengembalikan niat gw ngajak kenalan cewek di angkot. Setelah dia masuk, sopir pun menyalakan mesin untuk melajukan angkotnya, mungkin sopir tadi punya moto yang mirip dengan program KB, dua penumpang saja cukup.

Selama angkot berjalan, gw gak juga ngajak dia ngobrol, karena bingung kapan waktu berbicara dan apa kata pertama yang harus gw keluarkan, bahkan gw baru sadar kalau ternyata sampai saat ini belum pernah menyiapkan kata pertama yang harus dikeluarkan dari awal niatan ngajak cewek kenalan di angkot. Jadi gw hanya bisa curi pandang dari jarak yang aman dan memperhatikan cara dia mengisi kebosanan di angkot, dan gw menemukan sesuatu dari cara dia mengisi kebosanan, ternyata dia sesekali menunduk kebawah, melihat supir sesaat, melihat arah jendela belakang dan tiba-tiba sepersekian detik kita bertukar pandang. Aha, itulah saatnya pikir gw.

Gw mencoba menghapal pola dia, dimulai dari ke bawah, lalu sopir,  terakhir adalah jendela belakang dan pasti setelah itu dia akan ngeliat gw. Sesaat setelah cewek tadi melihat kebawah kembali, adrenalin langsung memompa darah ke jantung gw, membuat degupan yang cukup keras sampai ke kerongkongan dan cukup membuat pangkal mulut terasa kering, tatapannya sudah ke sopir lalu dia melihat jendela belakang dan kita bertukar tatapan kembali, gw terpaku dengan mulut kering dan tiba-tiba "hey" keluar dari mulut gw.

Dia tampak kaget, tapi gw coba mendekat dengan perasaan gak nyaman karena gak tau apalagi yang harus gw katakan. "Pulang?" dengan suara tidak lancar keluar dari mulut, sambil khawatir dianggap sebagai copet malam di angkot. "Iya" dia menjawab dengan baik untuk sebuah pertanyaan yang sangat sulit gw keluarkan, "e..., cuma mau cari temen ngobrol" berharap dia gak teriak atau lompat dari angkot, "oke, loe abis kerja?".

Mendengar dia bertanya menghilangkan seluruh kegelisahan dan ketidaknyamanan yang tadi gw rasakan, seperti saat kita berusaha keras untuk memanjat dinding tinggi dan tiba dipuncak lalu melompat kesisi yang lain, semua beban sudah lepas dan hilang. Pembicaraan berjalan normal tapi gw kebanyakan pasif untuk bertanya balik karena memang belum terbiasa berbicara dengan orang asing, bahkan gw gak berniat untuk bertukaran kontak dan berhubungan lebih lanjut. 

Dengan terburu-buru gw turun dari angkot setelah mengucapkan selamat tinggal seadanya, karena  sadar tempat gw turun angkot sudah terlewati cukup jauh. Melihat angkot menjauh sambil mereview kejadian yang baru terjadi, melewati batas adrenalin tadi adalah keberanian atau kenekatan ya?

Apapun itu, yang gw paham adalah bahwa kenekatan tadi seharga beberapa ratus kalori di malah hari, karena gak akan ada lagi angkot yang lewat untuk mengantar gw pulang.

logoblog

Share this:

CONVERSATION

5 comments:

  1. Sepertinya cewe itu juga sering bertemu geng yg lo makdud taditadi. Jadi, kebal dia digodain. Malah ketagihan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wekwkwkwk itu dia yg jadi misteri, nagih atau najis

      Hapus
  2. Kayaknya dia emang cewek yang fleksibel deh mas, tapi gak tahu juga sih, siapa tahu dia emang asyik orangnya mau diajak ngobrol apa saja pasti seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia yg menjadi menarik. karena kita gak tau

      Hapus
  3. Kayaknya itu cewek emang mencoba bersikap ramah aja deh mas. Tanpa maksud apa2.

    BalasHapus