Rumah Makan Kawan Jalan Merdeka Dumai


Entah padang. Entah Melayu. Tapi rumah makan kawan di jalan merdeka Dumai, punya rumor tersendiri. Menurut pengunjung setia rumah makan kawan, ini adalah salah satu rumah makan yang original. Original dalam kata artinya tidak menggunakan penyedap rasa buatan macam MSG. Gw sendiri gak berani tanya dan gak tau bedanya, mana makanan yang pake MSG dan yang tidak. Tapi rumor tersebut bikin gw tertarik untuk mencobanya.

Gak usah kita review tampilan rumah makannya. Karena kalau liat dari jauh akan membuat kita ragu. Itu bener rumah makan atau tempat foto copy. Karena tampak depannya mungil, dan plampang rumah makannya sangat mudah untuk kita lupakan. 

Standart pesanan gw adalah telur dadar. Menurut gw masakan padang atau melayu bisa diwakili oleh telor dadarnya. Rasa asin, asam, gurih dan segarnya masakan bisa dirasakan dari sepotong telur dadar. Dan juga telur dadar adalah item yang cukup murah, selebihnya kuah-kuah bisa sambil dicicip. #Sruput

Telur dadarnya terasa masih segar. Tidak ada rasa telur kemarin yang digoreng lagi. Asinnya pas dan Gurihnya memang sulit dikatakan kalau ini tidak menggunakan MSG, tapi tenggorokan gw gak ada sensasi "nyangkut". Jadi mungkin benar kalau masakan ini tidak ada MSGnya.



Perhatian gw tidak tertuju ke gulai ikan atau daging dendeng plus cabe merah yang disediakan. Gw penasaran sama sambel cabe ijo yang rame. Isinya bukan cuma cabe ijo doang, tapi ada potongan ikan asin cukup besar dan ada beberapa benda mencurigakan. Jelas banget gw liat benda yang bahasa latinnya adalah "Archidendron pauciflorum". Di kampung gw biasa disebut "ati kijang". Biasa diplesetin "jengki" atau oleh orang umum dipanggil "Jengkol".

Rasa jengkol dan cabe hijau belum pernah gw rasain. Pedas cabe hijau, gurih minyaknya dan jengkol yang pahit tipis tapi tidak getir, dan tidak melawan saat digigit. Jengkolnya lembut banget. Tidak salah orang bilang jengkol adalah "ati kijang". Karena kelembutannya seperti seekor kijang yang jinak, tidak melawan saat digigit. Sungguh lembut.

Ada juga kerupuk jangek. Kerupuk kulit yang disiram oleh kuah gulai. Kuah gulai gurih dan lengket meresap di kerupuk kulit. Memudahkan kita, tanpa harus mencocol kuah gulai. Kita bisa langsung makan kerupuk kulit dengan aroma kuah gulai. Mereka seharusnya mendapat hadiah nobel untuk penemuannya.


Dengan teh manis semuanya 20rb rupiah, dan tau yang paling menakjubkan? ternyata cabe hijau jengkolnya gratis.

Gw jadi gak perduli. Mau pake MSG atau tidak. Tapi untuk rumah makan kawan ini, Gw akan kembali lagi!

Share this:

CONVERSATION

13 comments:

  1. ...Ini pasti bukan di Jakarta ya Mas...?
    KRAY.

    BalasHapus
  2. Wah penikmat jengkol nih. Bikin ngiler nih.
    Itu gratis cabe hijaunya mas, sekarang cabe mahal lho..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yah.. padahal mahal. tapi mereka berani kasih kita gratisan tuh :p

      Hapus
  3. semur jengkolnya murah ga mba? kalau murah merapat dah aku heheh

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Haha pertanyaan bagus, sayang gw gak nanya kmrn.. Maaf :p

      Hapus
  5. menunya komplit banget kayaknya... kapan kapan mampir lah kalo ada kesempatan

    BalasHapus